Kamis, Februari 22, 2018

Yayasan Sentuhan Kasih Anak Indonesia

Yongki Ering

Cetak

yongki

Yongki Ering
Lahir di Tomohon, 26 Juni 1999
Kanker Nasofaring
 

Pada tahun 2010 bulan Januari minggu ke-3, di leher saya tepatnya di bawah telinga sebelah kiri timbul bengkak yang awalnya orang tua saya bepikir itu adalah gondongan, tetapi setelah seminggu bengkak itu tidak hilang. Orang tua saya membawa saya untuk diperiksakan ke dokter anak dan menurut dokter, itu hanya gondongan. Dokter kemudian memberi obat dan dalam satu minggu gondongan itu akan kempis, begitulah dokter meyakinkan saya.

Setelah lewat satu minggu, “gondongan” itu masih ada dan kembali saya dibawa ke dokter, kali ini dokter bedah. Lagi-lagi dokter itu mengatakan hal yang sama yaitu “gondongan” biasa, diberi obat lagi dan tidak lupa dokter itu meyakinkan saya bahwa “gondongan” itu akan akan hilang dalan waktu satu minggu.

Satu minggu saya lewati lagi, namun tetap saja “gondongan” itu masih ada dan kali ini disertai rasa sakit di kepala saya, hal ini dikarenakan orang tua saya mulai memakai obat tradisional dengan mengambil abu panas dan menggosok ke “gondongan” itu. Kembali saya dibawa ke dokter umum dan dokter itu menyatakan bahwa saya terkena infeksi kelenjar. Saya diberi obat untuk kelenjar dan obat untuk sakit kepala saya. Dokter itu tidak lupa meyakinkan saya bahwa bengkak itu pasti sembuh dan meminta saya untuk kembali setelah satu minggu, begitu seterusnya sampai empat minggu. Dokter itu mengatakan kalau tidak sembuh juga akan dirujuk ke dokter spesialis THT.

Sampai satu minggu berikutnya, memang sakit kepala dan “gondongan” itu belum sembuh juga dan akhirnya saya dibawa ke dokter spesialis THT. Orang tua saya menceritakan dari awal saya sakit dan dokter nama saja yang sudah kami datangi. Setelah dokter spesialis THT ini berkonsultasi dengan dokter bedah, akhirnya saya dirujuk ke dokter Patologi Anatomi. Dokter ini memeriksa saya dan mengambil cairan dalam “gondongan” itu. Hasilnya bisa diketahui setelah tiga hari kemudian. Tetapi untuk lebih memastikan diagnosa penyakit saya, dokter merujuk saya ke dokter THT Onkologi. Mereka mengambilsedikit daging dari dalam mulut dimana terdapat “gondongan” tersebut. Hasilnya pun baru bisa diketahui setelah tiga hari berikutnya.

Waktu yang ditunggu pun tiba, dan sungguh kami sekeluarga sangat terkejut dengan hasil pemeriksaan tersebut, bahwa saya terkena penyakit kanker nasofaring stadium IV A. Kami sangat bingung dengan kenyataan ini karena pengobatan harus dilakukan di Jakarta dan orang tua saya tidak sanggup untuk membiayai pengobatan yang pastinya sangat besar. Kami semua pasrah dan terus berdoa kepada Tuhan.

Tuhan menjawab doa-doa kami, dan Dia memberikan jalan keluar. Saya dibawa ke Rumah Sakit Prof. Kandou di Manado dan dari situ saya dirujuk ke RSCM, Jakarta. Walaupun biaya yang disiapkan sangat minim, namun saya beserta keluarga sudah bertekat agar pengobatan terus dijalankan demi mencapai kesembuhan. Dan Tuhan terus memberikan pertolongan kepada kami, melalui Yayasan Sentuhan Kasih Anak Indonesia yang membantu biaya pengobatan saya.

Setelah satu bulan semenjak diagnosa awal, pemeriksaan dilakukan kembali di RSCM dan dengan sangat mengejutkan kami semua bahwa stadium sudah bertambah menjadi stadium IV B, yaitu stadium akhir. Dokter menyatakan bahwa harapan untuk sembuh sangat kecil. Mendengar hal ini kami sekeluarga sangat terpukul, tapi lagi-lagi kami hanya bisa pasrah dan terus meminta pertolongan Tuhan. Kami bersyukur karena di tengah-tengah pergumulan yang kami hadapi, Tuhan tidak pernah meninggalkan kami. Melalui Yayasan Sentuhan Kasih Anak Indonesia, yang terus membantu dalam doa dan juga menopang kebutuhan pengobatan saya.

Pengobatan yang harus saya jalani sangat panjang dan banyak sekali rintangannya. Saya harus menjalani kemoterapi selama 6 bulan. Dalam masa kemoterapi ini saya sering mengalami mual dan muntah-muntah dan kadang kala juga disertai demam atau HB turun dan akhirnya saya harus menjalani transfusi darah. Rambut saya menjadi rontok akhirnya mengalami kebotakan. Ditambah lagi saya harus menjalani kemo-sensitizer sesudah kemoterapi. Akibatnya seluruh tubuh saya dari ujung kepala sampai ujung kaki menjadi gosong.

Tenggorokan saya juga tidak bisa menelan. Mulut saya penuh dengan luka-luka. Tetapi walaupun dengan kondisi saya seperti ini, saya berusaha untuk tetap makan dan minum sambil menahan rasa sakit, karena saya sudah bertekad untuk sembuh.

Akhirnya saya bisa melewati kemo-sensitizer selama 36 kali. Setelah pengobatan itu kembali saya dievaluasi dan dokter mengatakan untuk kontrol 2 bulan sekali selama 3 kali (enam bulan), dan 3 bulan sekali selama 6 bulan, dan akhirnya 1 tahun sekali selama 5 tahun.

Pada tahun 2013 tepatnya bulan Agustus, kembali dokter mengevaluasi saya dengan CT Scan dan biopsi, dan dokter mengatakan bahwa sudah tidak ada tanda-tanda keganasan. Saya bersyukur kepada Tuhan untuk kesembuhan yang telah diberikanNya kepada saya dan saya juga terus berdoa agar kanker itu tidak kembali lagi ke tubuh saya. Saya juga terus berdoa agar Yayasan Sentuhan Kasih Anak Indonesia agar terus berkembang lebih baik dan lebih maju lagi untuk dapat membantu anak-anak seperti saya.

Dan saya juga berterima kasih kepada donatur-donatur Yayasan Sentuhan Kasih Anak Indonesia yang sudah dengan sangat banyak membantu kami dalam masa pengobatan dan juga dalam masa-masa kontrol.

Saya mengajak teman-teman yang menderita penyakit kanker untuk kuat dan tegar dalam melawan penyakit kita dan selalu berdoa, bergembira, dan bersemangat supaya kita bisa mendapatkan kesembuhan.

Catatan : Kalau kita menemukan benjolan di tubuh kita dan tidak terasa sakit, jangan ditekan ataupun dielus, tetapi sebaiknya diperiksakan ke dokter untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan yang tepat.