Senin, Agustus 20, 2018

Yayasan Sentuhan Kasih Anak Indonesia

Rofifah Juniandar

Cetak

rofifah

Rofifah Juniandar
Lahir di Tangerang, 15 Juni 1997
Ostoesarcoma (kanker tulang)
 
 

Awal mula sakit pada tahun 2008,aku merasakan gejala pegal di sekitar paha sebelah kanan. Terutama pada malam hari,saat istirahat tiba. Pada siang hari aku melakukan aktivitas seperti biasa, yaitu: sekolah, membantu mama dan bermain bersama teman-teman. Lama kelamaan kaki ini mulai bengkak dan terasa sedikit ngilu. Mama berinisiatif untuk membawa aku ke dokter Puskesmas dan dokter menyarankan untuk dilakukan rontgen. Hasilnya tidak menunjukkan adanya masalah yang serius dan dokter memberikan antibiotik saja. Mama merasa penasaran, kemudian mama membawa saya ke dokter lain dan hasil pemeriksaan menyatakan kemungkinan adanya kanker, tapi belum bisa dipastikan jenis kanker apa. Setelah tiba di rumah, kami berembuk dengan seluruh anggota dan dua hari setelahnya kami minta surat rujukan ke Rumah Sakit Daerah. Akuumenjalanipemeriksaan awal di RS Adjidarmo, Rangkasbitung.

Puasa pertama di bulan ramadhan sangatlah sedih karena baru kali itu aku merasakan perjalanan jauh, berpuasa, dan yang paling tidak enak lagi dalam keadaan sakit. Setelah menunggu lama, dokter membawa kabar yang sangat mengagetkan bahwa aku menderita kanker tulang yang sangat ganas. Sedih sekali saat itu,walaupun aku dan mama belum begitu tahu arti kanker yang sebenarnya. Aku hanya sering mendengar dari televisi, cerita sinetron dan berita. Pada saat itu aku baru duduk di bangku SD kelas enam di awal tahun ajaran baru .Karena keterbatasan peralatan yanag dimiliki oleh rumah sakit ini, akhrinya dokter merujuk aku ke RS “Dharmais” untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Seharian itu aku menjalani pemeriksaan, baru pada malam harinya aku bisa sampai di rumah lagi.Orangtuaku berembuk dengan keluarga besar agar aku bisa secepatnya dibawa ke Jakarta, karena kaki ini terus bertambah besar. Orang tuaku berusaha mencari pinjaman dari sanak saudara untuk keperluan biaya berobat. Sampai akhirnya pada pertengahan bulan September aku berangkat ke Jakarta bersama Bapak, Mama, dan adikku.

Pemeriksaan awal di RS “Dharmais sangat melelahkan karena lokasi dari tempat kami mengontrak sangat jauh, yaitu di daerah Condet. Pemeriksaan demi pemeriksaan mulai dilakukan dan hasilnya adalah kanker tulang (osterosarkoma) stadium 118. Yang pasti saat itu dokter mengatakan bahwa harus segera dilakukan tindakan walaupun penjelasannya masih belum dapat dipahami benar. Sebulan di Jakarta melakukan pemeriksaan awal serasa sudah lama sekali. Lebaran sebentar lagi akan tiba, dan kami memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Untuk pemeriksaan selanjutnya aku dan mama saja yang berangkat karena selain biaya hidup di Jakarta yang sangat mahal adikku juga harus sekolah.

Suatu hari mama akan membacakan hasil ke dokter, saat itu aku harus ditinggal di lantai 1 dan mama ke lantai yang lain. Aku menunggu di dekat lift. Karena kakiku mulai terasa pegal dan paha terasa sakit, akhirnya aku mencari tempat duduk di sekitar situ. Aku mulai kesal dan marah karena sudah hampir 2 jam aku menunggu. Akhirnya mama muncul sambil menangis dan memeluk aku. Ternyata sudah sedari tadi mama kebingingungan dan cemas mencari aku. Bahkan mama sudah menelepon ke kampung dan mengatakan bahwa aku hilang dan diculik. Karena kejadian ini, mama memutuskan agar aku diperiksa di RSCM saja, karena kondisi RS “Dharmais yang terdiri dari beberapa lantai yang membuat mama pusing. Saat itu biaya pengobatanku tidak menggunakan Jamkesda.

Dengan bantuan teman mama aku bisa berobat di RSCM. Hasil pemeriksaan yang lama dibacakan lagi dan dilakukan pemeriksaan laboratorium, biopsi dan CT Scan. Setelah bertemu dengan dokter spesialis tulang dan dikonsultasikan ke bagian anak, aku harus menjalani kemoterapi. Biaya yang dibutuhkan untuk sekali kemoterapi mencapai 10 sampai 15 juta rupiah. Aku dan mama sangat terkejut mendengarnya, karena untuk pemeriksaan awal dan biaya hidup kami selama di Jakarta sudah menghabiskan hampir dua puluh juta rupiah. Saat itu kami memutuskan untuk pulang ke kampung dan berunding dengan keluarga untuk mencari solusi terbaik.

Mendapatkan jaminan kesehatan di daerah asal mamaku ternyata tidak bisa, sampai akhirnya ada seseorang yang membantu mengusahakan agar aku mendapatkan jaminan kesehatan dari daerah kelahiranku di Tangerang dan berhasil. Selama pengurusan itu aku sempat dibawa ke pengobatan tradisional karena rasa sakit yang sudah tidak tertahankan. Dengan penuh semangat akhirnya aku kembali melakukan pemeriksaan selanjutnya.

Akhir bulan Desember aku mulai menjalani kemoterapi, tetapi jaminan kesehatan hanya membayar setengah saja dari jumlah total obat yang diperlukan, setengahnya lagi kami usahakan sendiri biayanya. Tapi kami tetap mensyukurinya karena Tuhan sudah memberikan jalan pada kami. Ternyata kemoterapi bukannya membuat kondisiku menjadi baik tapi malah memperburuk. Rambutku mulai rontok, bukan sehelai-sehelai tapi langsung segenggam. Pahaku pun lama kelamaan mulai membesar dan sakitnya luar biasa. Aku diberikan semangat oleh mama, bapak dan keluarga di kampung. Aku sangat merindukan sekolah dan terlebih teman-teman sekelasku. Masih teringat dalam bayanganku, bulan Agustus yang lalu aku ikut berkemah dan hiking bersama. Sementara saat itu aku hanya terbaring lemah di rumah sakit, sungguh malang nasibku. Mama juga tidak bisa bekerja seperti biasa karena harus merawat aku dan bapak juga harus menjaga adik di kampung. Pengobatan terus dilakukan sampai akhirnya kemo pertam selesai. Aku sangat senang karena bisa pulang ke rumah kontrakan kami di Condet, kebetulan nenekku juga sedang ada di Jakarta. Dokter memberikan waktu istirahat selam 3 minggu sampai aku melanjutkan kemo yang kedua.

Belum sampai satu minggu istirahat, badanku mendadak demam. Mamaku kebingungan dan tidak tahu harus melakukan apa. Aku berusaha menahan sakit tetapi tidak bisa karena aku muntah-muntah dan buang-buang air terus. Mama membawa aku untuk berobat ke ke dokter terdekat tetapi ternyata aku tidak boleh minum sembarang obat. Dokter itu menyarankan mamaku untuk menghubungi dokter RSCM dan diminta agar aku segera dibawa ke IGD.

Sampai di IGD, aku langsung dibawa ke ruang anak, yang harus melewati tempat pasien yang parah kondisinya. Aku merinding melihat darah dan bau amis yang menusuk hidung. Kembali teringat peristiwa empat bulan yang lalu tepatnya pada bulan Juli tahun 2008, saat kakekku mengalami kecelakaan dan akhirnya meninggal dunia. Ujian buat keluarga kami memang sangat bertubi-tubi.

Dokter memutuskan agar aku dirawat inap, karena harus melakuakn tes darah : HB, leukosit, dan trombosit, disamping itu kondisiku juga yang sangat buruk karena aku mengalami pendarahan di mulut dan telingaku. Saat itu aku berpikir tidak akan ada kehidupan lagi.Pemulihan terus terus dilakukan sambil pemeriksaan terhadap kondisi tubuhku. Bosan rasanya terlalu lama berbaring di rumah sakit. Kulitku mulai hitam, rambutku plontos. Hampir setiap menit aku mendengar kabar teman sekamarku ada yang meninggal. Dalam hati aku berpikir kapan tiba giliranku. Sulit rasanya untuk bisa menerima kenyataan ini, tapi mama selalu menasehati agar aku tabah, sabar, dan tawakal dalam menjalaninya. Kulihat tubuh mama yang semakin hari bertambah kurus karena harus menjalani beban hidup yang begitu berat, harus terpisah dengan bapak dan adikku di kampung. Aku berusaha untuk tidak bersikap rewel kepada mama. Aku menjalani perawatan sampai tiba waktunya untuk kemo yang kedua.

Kemo kedua berhasil kujalani, dan setelah menjalani pemeriksaan dokter menyatakan bahwa bengkak di pahaku sudah berkurang. Hatiku sangat senang memdengarnya. Ini membuat aku bersemangat untuk menanti kemo selanjutnya, semoga aku cepat sembuh pikirku....amin.Saat aku harus kontrol di Hematologi Anak, mama bertemu dengan orang tua pasien yang lain dan langusng akrab, mungkin karena mengalami hal yang sama dan kebetulan kami juga berasal dari daerah yang sama. Kami mendapat informasi mengenai adanya Rumah Singgah untuk anak penderita kanker. Karena itu untuk kemo ketiga kami putuskan untuk tinggal di Rumah Singgah.

Kemo ketiga sudah selesai dijalani, tiba giliran untuk operasi tulang paha yang diputuskan oleh dokter karena tulang yang membengkak di paha sebelah kananku sudah mengecil. Operasi dilakukan pada tanggal 18 Maret 2009. Karena ini adalah operasi besar maka bapak dan adikku datang ke Jakarta untuk menyemangati aku. Tulang pahaku dipotong kemudian dilakukan penyinaran supaya bersih dari sel-sel kanker. Operasi berlangsung kurang lebih selama delapan jam. Selama dua hari dua malam aku belum bisa minum, apalagi makan. Ingin rasanya kuminum air dalam botol infus itu karena rasa haus yang tak tertahankan, sangat tersiksa sekali. Masa pemulihan berlangsung selama satu minggu dan aku hanya ditemani oleh mama karena bapak dan adikku sudah kembali ke kampung. Setelah kondisiku membaik aku pulang ke rumah singgah. Aku mulai merasa nyaman di tempat ini karena bisa berkumpul dengan teman-teman penderita kanker, ada yang kanker mata, kanker darah, kanker otak, kanker ovarium, dll. Kami sudah seperti sebuah keluarga besar. Bagiku ini sangat bermanfaat untuk orang – orang seperti aku yang tempat tinggalnya jauh dari Jakarta. Kami hanya diwajibkan untuk membayar biaya Rp 5.000 per harinya.

Masa istirahat sudah selesai, tiba waktunya untuk kemo yang keempat. Aku sudah mulai terbiasa untuk menjalani tahap-tahap ini, muntah-muntah, buang-buang air, dll. Plastik pun sudah selalu sedia di bawah bantalku, sewaktu-waktu aku ingin muntah dengan mudah aku bisa mengambilnya.

Mama dan aku tidak menyadari kalau ternyata ada semacam benjolan di bekas operasiku. Menurut dokter anak itu kemungkinan ada masa baru yaitu tumor baru lagi. Dokter ortopedi memutuskan agar dilakukan rontgen dan hasilnya menyatakan bahwa ada kawat yang menonjol. Maka operasi kembali dilakukan pada bulan mei 2009 untuk mengeluarkan kawat itu.

Aku baru mulai menyadari bahwa ternyata pengobatan kanker memakan proses yang panjang dan berliku. Tadinya aku berpikir siklus kemo yang terakhir sudah selesai pada bulan Mei, tetapi pada kenyataannya operasinya saja harus berlangsung dua kali. Kenyataan pahit ini harus aku hadapi, yang rasanya sangat sulit untuk diterima oleh siapapun. Tapi Tuhan memberikan kekuatan yang aku sendiri tidak menyadarinya. Aku dan keluarga tidak bisa menjalani ini tanpa campur tangan Tuhan.

Kemo berikutnya dilakukan setelah masa pemulihannya selesai. Aku bersyukur karena bisa berjalan tanpa ada kendala. Aku sudah membayangkan masa istirahat menuju kemo keenam, yang kebetulan juga bulan ramadhan, bisa kumanfaatkan untuk berkumpul dengan keluarga di kampung halaman. Tapi kenyataan yang terjadi sangat jauh dari apa yang kuharapkan. Pada saat kontrol ternyata telapak kakiku ada semacam luka dan lama-lama membengkak. Setelah periksa darah ternyata trombositku turun. Dokter mengatakan aku harus transfusi darah putih dan harus dirawat di ruang isolasi. Massaallah.....ruang isolasi kan untuk pasien yang sudah akut? Berarti kondisiku sudah sangat parah, pikirku. Sedih luar biasa, tidak jadi pulang ke kampung halaman, malahan aku harus dirawat di ruang isolasi. Pada akhirnya aku dan keluargaku berlebaran di rumah sakit.

Setelah satu minggu dirawat akhirnya aku bisa pulang karena menurut dokter kondisiku sudah membaik. Karena jadwal kemo sudah selesai akhirnya mamaku minta izin agar kami bisa pulang ke kampung halaman.

Satu kesalahan besar yang tidak kami sadari, kami tidak membawa tongkat karena pikirku itu tidak akan menjadi masalah. Ternyata setelah satu bulan di kampung, karena asiknya bermain tidak terasa ada bunyi seperti ada yang patah di tulang pahaku. Akhirnya kami putuskan untuk berangkat ke Jakarta.

Hasil rontgen menyatakan bahwa pen penyangga tulang paha ku patah, padahal ukurannya cukup besar. Aku sudah membayangkan bahwa aku akan menjalani operasi lagi. Sampai kapan aku harus menjalani ini? Akhirnya pada bulan Desember 2009 dilakukan operasi yang ketiga yaitu pengambilan pen yang patah. Saat itu kami sudah tidak mendapatkan jaminan kesehatan karena sudah melebihi dari plafon yang ditentukan. Tapi Tuhan memberikan jalan keluar kepada kami melalai bantuan dari yayasan akhirnya operasi bisa dijalankan.

Setelah selesai masa pemulihan pasca operasi aku dan mama kemmabali ke kampung halaman selama satu bulan sampai akhirnya kami berangkat ke Jakarta untuk kontrol. Aku menjalani pemeriksaan rontgen. Hasil pemeriksaa menunjukkan bahwa masih ada sel-sel kanker pada tulang yang telah dioperasi, sehingga kakiku harus diamputasi agar sel-sel kanker itu tidak menyebar ke paru-paru atau otak. Aku sangat kaget bercampur sedih. Apakah tidak ada cara lain??? Tetapi memang operasi harus dilakukan tepatnya pada bulan Februari 2010. Ditengah-tengah proses operasi, mamaku dipanggil oleh dokter ortopedi dan mengabarkan bahwa kakiku tidak perlu diamputasi. Keluargaku bingung, walaupun sebenarnya senang juga karena tidak perlu amputasi. Sebagai gantinya aku kembali harus menjalani kemo sebanyak dua siklus agar sel-sel kanker itu mati.

Aku sudah terbiasa dengan vonis-vonis dokter. Aku dan keluargaku selalu menerima dengan tabah dan pasrah. Mungkin ini sudah menjadi takdir dan nasib keluarga kami, bahkan pada waktu adikku divonis terkena flek pada paru-parunya dan juga ada benjolan di tangan, kami tetap pasrah.

Kemo tambahan sudah selesai dilakukan dan aku diperbolehkan pulang. Bulan Oktober 2010 dokter merencanakan operasi lagi untuk pemasangan pen yang belum sempat dipasang. Akhirnya semuanya bisa terselesaikan. Aku lega karena aku bisa kembali ke rumah dan kembali ke sekolah. Senang rasanya bisa berkumpul lagi bersama teman-temanku. Setelah dua tahun menjalani pengobatan aku bisa mulai sekolah di bangku SMP.

Tiga bulan di rumah membuat aku lupa dengan penyakitku. Hingga pada suatu sore yang tidak menguntungkan buatku, saat aku berjalan dari rumah Om ku menuju ke rumah, tiba-tiba tulang pahaku patah. Aku sangat kaget. Ya Tuhan, sampai kapan ujian ini berakhir?

Kami berangkat ke Jakarta untuk melakukan pemeriksaan. Benar, setelah diperiksa ternyata tulang pahaku patah akibat menopang pen penyangga yang dipasang di tulang tersebut. Tentunya bayangan operasi sudah muncul di depan mataku. Akhirnya dengan bantuan dari Yayasan Sentuhan Kasih Anak Indonesia, operasi bisa dilaksanakan. Aku sangat berterima kasih kepada Yayasan Sentuhan Kasih Anak Indonesia yang sudah banyak sekali membantu selama masa pengobatanku, begitu juga untuk pengobatan adikku. Bahkan sampai operasi yang ketujuh pada bulan Juni 2011, saat aku berulang tahun yang kelima belas, Yayasan Sentuhan Kasih Anak Indonesia membantu aku. Sampai suatu kali Ibu Sally (Yayasan Sentuhan Kasih Anak Indonesia) datang mengunjungiku di kampung halamanku yang sangat jauh dan kumuh. Malu rasanya kami tidak bisa menjamu dan membalas kebaikan beliau. Aku hanya bisa berdoa agar Ibu Sally dan juga Yayasan Sentuhan Kasih Anak Indonesia boleh selalu dilancarkan segala urusannya.

Aku sudah bisa bersekolah dan beraktivitas seperti biasa, walaupun setelah operasi amputasi aku harus menjalani kemo sebanyak empat siklus. Sayang sekali pada waktu itu rambutku sudah mulai tumbuh lebat dan panjang, harus mengalami rontok lagi. Tetapi mama terus berusaha membesarkan hatiku, bahwa aku masih tetap cantik walau rambutku botak. Bagiku mama seperti seorang sahabat yang bisa memahamiku.

Alhamdulilah, dari awal sakit, aku dan mama bisa bekerja sama dengan siapapun seperti dokter, juga para suster yang merawatku. Padahal kendala selama masa pengobatan banyak sekali. Intinya adalah sabar dan selalu menerima, begitu yang selalu diajarkan mamaku. Terus terang saja, berat sekali menerima kondisiku seperti sekarang ini. Kadang aku merasa iri pada teman-temanku. Mereka bisa pergi kemana mereka suka, sedangkan aku...., pedih sekali rasanya. Beruntung aku mempunyai keluarga yang selalu menghibur aku. Mereka tidak mempermasalahkan kondisiku, aku diperlakukan seperti anak yang sehat. Bagiku itu lebih baik supaya membuat aku lebih percaya diri. Mudah-mudahan aku sehat sampai nanti bisa sekolah da meneruskan cita-cita setinggi langit. Amiiiiiiiiin.